2026-04-22 HaiPress



JAKARTA, iDoPress - Udara dingin masih menusuk di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (22/4/2026) subuh.
Langit masih gelap dengan warna hitam kebiruan dan matahari belum menampakkan dirinya.
Namun Jalan Lingkungan III, Tegal Alur sudah mulai ramai oleh segelintir warga yang memulai hari lebih awal.
Salah satunya Azis (45), guru honorer pengajar agama Islam dan kesenian yang bertugas di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1, Penjaringan, Jakarta Utara.
iDoPress mencoba mengikuti perjalanan Azis menuju sekolah yang menjadi tempatnya mengabdikan diri mendidik calon-calon pemimpin bangsa.
iDoPress tiba di rumah Azis sekitar pukul 05.15 WIB, saat rumah-rumah di sekitarnya masih tertutup rapat.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Abdul Azis (45) seorang guru honorer yang setiap hari berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda lipat tuanya dari rumahnya di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju Penjaringan, Jakarta Utara
Rumah Azis berada di Gang Lingga IX RT 007 RW 003, Kelurahan Tegal Alur.
Azis tengah menunaikan shalat Subuh dengan menggunakan seragam pramukanya, senada dengan seragam sekolah yang dikenakan sang putri sulungnya, Azalea (11).
Setelah berpamitan dengan sang istri, Azis mencium kening putri keduanya yang tertidur lelap dalam gendongan sang ibu.
Ia lalu mengenakan jaket abu-abu yang ia kenakan setiap hari untuk melindungi diri dari dinginnya udara dan panasnya sengatan matahari.
Kemudian, Azis pun melangkahkan kaki ke tempat ia memarkir sepeda lipatnya yang bersender di dinding kontrakan.
Sepeda yang sejumlah bagian bodinya telah dipenuhi oleh karat itu menjadi satu-satunya kendaraan bagi Azis untuk membelah barat hingga utara Jakarta demi menuju ke sekolah.

iDoPress/Ridho Danu Prasetyo Abdul Azis (45) seorang guru honorer yang setiap hari berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda lipat tuanya dari rumahnya di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju Penjaringan, Jakarta Utara
Sambil dipeluk oleh sang anak dari jok belakang, Azis mengayuh dengan tenang, melewati orang-orang yang berjalan kaki menenteng belanjaan dari pasar.
Berulang kali, ia meliuk ke kanan dan ke kiri, menghindari pejalan kaki yang berjalan hampir ke tengah jalan.
Namun, perjalanan sebenarnya baru dimulai saat ia berbelok dan memasuki jalan utama yaitu Jalan Kapuk Kamal Raya.
Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Shell Hubungi kami SiteMap