Rumah Pendidikan orang dewasa Aliansi bisnis ESports Transaksi real estat Komunitas keuangan Lebih Lebih

Wayang Orang di Tengah Disrupsi Digital dan Rapuhnya Nasib Seniman

2026-05-25 HaiPress

JAKARTA, iDoPress -Di tengah derasnya arus digital yang mengubah cara masyarakat menikmati hiburan, wayang orang masih bertahan sebagai salah satu kesenian tradisional yang terus dijaga eksistensinya.

Namun, di balik panggung yang tetap hidup, tersimpan berbagai tantangan, mulai dari bergesernya selera penonton hingga rentannya kondisi para pelaku seni yang menjadi penopang keberlangsungan pertunjukan ini.

Budayawan Asep Kambali menilai, kondisi yang dialami wayang orang saat ini merupakan bagian dari perubahan besar budaya di era digital.

Ia menyebut hampir semua kesenian tradisional mengalami tekanan akibat perubahan tersebut.

"Jadi gempuran di era disrupsi ini saya kira ini sangat berdampak terutama pada seni pertunjukan, terutama hiburan-hiburan yang mungkin bisa diperoleh secara instan," kata Asep melalui pesan WhatsApp, Senin (25/5/2026).

Wayang Orang sebagai Living Monument

Di tengah tantangan tersebut, Asep menegaskan bahwa wayang orang tidak bisa dipandang hanya sebagai hiburan, tetapi “living monument” atau monumen hidup yang merekam memori kolektif bangsa.

“Living monument dari memori kolektif bangsa kita di dalam wayang orang itu menyimpan nilai-nilai baik secara filosofis ataupun bahkan identitas kejawaan kita dan tentu nusantara pada umumnya," kata dia.

Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha Muhammad Wahyudi atau Yudi Bharata saat pergelaran Wayang Orang Baratha

Meski dianggap tradisi lama, Asep menilai wayang orang tetap relevan bagi generasi saat ini karena mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan manusia modern, meliputi konflik, kepemimpinan, dan moralitas.

"Dan itu kan sebenarnya bicara soal kehidupan kita, baik bermasyarakat atau berbangsa dan bernegara. Jadi DNA konflik manusia itu dalam wayang orang kan selalu diangkat. Bagaimana mencari kebenaran, bagaimana seorang pemimpin. Isu-isu ini kan isu-isu yang juga hari ini dihadapi oleh generasi sekarang," kata Asep.

Tantangan Perubahan Menikmati Pertunjukan

Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama bukan pada isi cerita, melainkan pada cara penyampaian yang perlu menyesuaikan zaman.

Menurut dia, audiens masa kini memiliki rentang perhatian yang lebih pendek. Karena itu, pertunjukan harus mampu menghadirkan daya tarik sejak awal agar penonton tidak kehilangan minat.

Jika tidak, generasi muda yang terbiasa dengan format cepat di media sosial berpotensi meninggalkan pertunjukan di tengah jalan.

“Kalau terlalu ikutin pattern itu orang akan mundur. Lama-lama mungkin akan meninggalkan ruangan meskipun itu berbayar,” ujarnya.

Krisis Seniman Wayang Orang

Selain persoalan relevansi budaya, Asep juga menyoroti kondisi rentan yang dihadapi para pelaku seni tradisional.

Ia menyebut bahwa keberlangsungan profesi seniman wayang orang berada dalam situasi yang tidak stabil.

“Ini kalau dilihat dari ekosistem hari ini, profesi seniman wayang ini memang sedang dalam proses atau dalam posisi yang mungkin sangat rentan, sekaligus menantang saya kira," kata dia.

Ia menilai bahwa banyak seniman pada akhirnya harus mencari jalan lain untuk bertahan hidup, karena seni belum sepenuhnya menopang keberlanjutan hidup mereka.

Asep menegaskan bahwa pelestarian wayang orang tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, swasta, media, dan masyarakat.

"Dia mesti berjuang, meskipun sendirian. Bahkan mungkin juga dia harus elevate tadi. Dan tentu masyarakat, pemerintah, stakeholders enggak bisa mendiamkan, enggak bisa membiarkan mereka sendirian," kata dia.

Ia juga mendorong agar wayang orang ditempatkan dalam kerangka ekonomi kreatif, termasuk kemungkinan pengemasan sebagai pertunjukan bernilai premium seperti opera di luar negeri.

Lebih jauh, Asep mengingatkan bahwa dukungan terhadap wayang orang tidak boleh bersifat sesaat atau sekadar berbasis simpati, melainkan harus dibangun dalam sistem yang berkelanjutan.

Menurut dia, pelestarian budaya harus mencakup aspek yang lebih luas, mulai dari kesejahteraan seniman, infrastruktur, perlindungan hak cipta, hingga integrasi dengan sektor pariwisata.

Eksistensi Wayang Orang Bharata

Di wilayah Senen, Jakarta Pusat, Wayang Orang Bharata masih terus mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu ruang seni tradisional yang tersisa di Ibu Kota.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.

Hubungi kami

©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Shell    Hubungi kami  SiteMap