Rumah Pendidikan orang dewasa Aliansi bisnis ESports Transaksi real estat Komunitas keuangan Lebih Lebih

"Awalnya Cuma Pengin Tahu Rasanya", Penyesalan Lulusan Pesantren Pernah Terjerat Narkoba

2026-07-10 HaiPress

JAKARTA, iDoPress -"Awalnya cuma pengin tahu rasanya kayak gimana, namanya anak muda. Pas dicoba keterusan".

Refi (bukan nama sebenarnya, 40), terus dibayangi rasa penyesalan karena pernah terjerumus obat-obatan terlarang.

Berawal dari ajakan teman dan rasa penasaran di usia muda, narkoba perlahan mengubah kehidupan yang semula biasa menjadi lingkaran kecanduan yang sulit diputus.

Warga Cilincing, Jakarta Utara itu merupakanlulusan pondok pesantren. Ia sudah mulai mencoba narkoba di usia 18 tahun atau sekitar tahun 2000-an.

"SMA sampai lulus tahun 2005. Saya tidak dipaksa teman, melainkan karena memang ingin mencoba sendiri," ucap dia ketika ditemui di kawasan Cilincing, Kamis (9/7/2026).

Refi sudah mencoba beberapa jenis narkoba, mulai dari ganja, putau, hingga sabu-sabu.

Ia pernah merelakan urat nadinya ditusuk jarum untuk memasukan serbuk narkoba ke dalam tubuhnya.

Namun, narkoba yang paling sering dikonsumsinya merupakan ganja.

"Efek ganja membuat saya tertawa, senang, dan merasa santai. Karena saat itu sedang marak, ganja menjadi yang paling sering digunakan sampai tidak terhitung jumlahnya. Setelah itu baru putau yang disuntik," sambung Refi.

Terbatasnya ekonomi

Beruntungnya saat itu, Refi belum memiliki banyak uang, sehingga tak bisa sering membeli narkoba.

Refi baru akan menggunakan narkoba apabila diberikan oleh temannya atau iuran bersama.

Meski begitu, lulusan pondok pesantren tersebut tetap terjerat narkoba selama bertahun-tahun.

"Jadi sekitar lima tahun. Ganja itu selain murah, memang banyak sekali penggunanya di lingkungan saya dibandingkan sabu atau putau," kata dia.

Namun, ia menggunakan barang terlarang itu hanya ketika ada temannya dan tak pernah sendirian.

Selama aktif menggunakan ganja, Refi mengaku menjadi orang yang pemalas dan lebih senang melamun, kebingung dan berhalusinasi, sehingga sering tertawa sendiri.

Namun sisi positifnya, Refi merasa tubuhnya menjadi lebih sehat, karena nafsu makannya meningkat.

Memaksa untuk berhenti

Seiring berjalannya waktu, Refi menyadari kecanduan narkoba membuatnya mengalami banyak kerugian dan menyesal.

Semakin lama, ia merasa tubuhnya makin tak sehat, sehingga perlahan berhenti mengurangi konsumsi narkoba.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.

Hubungi kami

©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Shell    Hubungi kami  SiteMap