2026-08-07 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Anggota Komisi IX DPR Muhammad Haris berharap kematian Yurizal Tri Chaerawan yang merupakan peserta BPJS Kesehatan menjadi pelajaran semua pihak dalam memperbaiki pelayanan kesehatan di Indonesia.
Tidak hanya dari pelayanan kesehatan, tetapi juga perhormatan para tenaga kesehatan (nakes) kepada masyarakat, terutama pasien.
"Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan empati dan rasa kemanusiaan. Jangan sampai ada lagi pasien yang merasa sendirian ketika mencari pertolongan. Tragedi ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi," ujar Haris dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas komentar-komentar nirempati dari para tenaga kesehatan (nakes) kepada Yurizal sebelum meninggal dunia.
Menurutnya, kasus tersebut menjadi tamparan bagi dunia kesehatan, terutama dalam etika profesi dan empati kepada pasien.
"Saya sangat prihatin melihat seorang pasien yang sedang berjuang melawan penyakit justru mendapat komentar yang merendahkan dari oknum tenaga kesehatan. Apapun situasinya, pasien adalah manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dan penguatan, bukan cibiran ataupun perundungan," ujar Haris.
Kritik dan keluhan dari pasien, kata Haris, seharusnya menjadi bahas evaluasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.
"Respon yang tepat adalah mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki, bukan membalas dengan komentar yang melukai. Empati adalah bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga kesehatan," ujar Haris.
Selain soal etika, ia juga meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelayanan BPJS Kesehatan.
"Jangan sampai masyarakat merasa bahwa menggunakan BPJS berarti harus menerima waktu tunggu yang panjang tanpa kepastian," ujar Haris.
Ia menegaskan bahwa kepastian, kecepatan, dan rasa aman kepada masyarakat merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang baik.
"Persoalan ketersediaan tempat tidur, tata kelola rujukan, dan koordinasi antar fasilitas kesehatan harus terus dibenahi agar pelayanan semakin cepat dan berkualitas," ujar Haris.
Diketahui, kasus ini bermula dari unggahan Yurizal Tri Chaerawan di platform Threads pada 22 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan saat menggunakan layanan BPJS Kesehatan.
Curhatan Yurizal kemudian menjadi viral dan memicu perbincangan luas di media sosial. Namun alih-alih mendapat simpati, ia justru menerima sejumlah komentar bernada nirempati dari warganet.
Sebagian komentar tersebut diketahui berasal dari akun yang diduga milik para nakes. Isi komentarnya dinilai tidak menunjukkan empati terhadap kondisi pasien.
Yurizal kemudian dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar duka tersebut memicu sorotan publik terhadap etika dan empati nakes dalam berinteraksi dengan pasien, termasuk saat menggunakan media sosial.
iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang
Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Jaringan Pendidikan Shell Hubungi kami SiteMap